Mengasihi Adalah Tanggung Jawab Kristiani

by admin

in Cerita Nyata

Sebagai seorang Kristen, tentu kita pernah atau bahkan mungkin sangat hapal dengan 10 perintah Allah khususnya perintah ke-5 yakni “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu”.  Dalam renungan Kristen hari ini, penulis ingin berbagi kisah diri sendiri tentang bagaimana beratnya tanggung jawab untuk melakukan perintah ke-5 tersebut. Cerita ini bukanlah rekayasa namun kisah nyata karena begitu kuatnya kenangan itu di saat-saat terakhir selama merawat orang tua yang sakit sebelum dipanggil Tuhan untuk selamanya.

Walau telah berkeluarga namun saya, istri dan 1 anak haruslah tetap tinggal di rumah orang tua oleh karena memang kami belum mampu untuk memiliki rumah sendiri karena kondisi keluarga kami yang pas-pasan hanya untuk hidup sehari-hari. Serumah kami tinggal berempat dengan ibu saya selama beberapa tahun karena kedua kakak saya tinggal berjauhan kota sehingga saya sekeluargalah yang harus menjaga dan merawat ibu saya di masa tuanya.

Mungkin memang benarlah apa yang dikatakan peribahasa bahwa kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang penggalan, kasih seorang ibu takkan pernah dapat ditandingi oleh siapapun termasuk bakti anak kepada ibunya. Ini saya rasakan sendiri betapa beratnya merawat ibu saya sendiri ketika dalam keadaan sakit-sakitan waktu itu. Terkadang saya sering berkata kasar dan seolah kurang memperhatikan keperluan ibu saya ketika beliau membutuhkan bantuan saya (dimana hal itu selalu menjadi beban dan penyesalan sampai detik ini dalam hati saya).

Sakit stroke yang diderita ibu saya membuatnya tak kuat untuk berjalan sendiri, segala sesuatu haruslah dibantu oleh orang lain bahkan untuk makanpun haruslah disuapi. Saya dan istri bergantian untuk memenuhi kebutuhannya dimana anak kami yang masih balita juga memerlukan perhatian. Setiap hari kami disibukkan dengan merawat dan membesarkan anak serta merawat ibu yang sedang sakit di tengah kondisi kami berdua harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup kami. Jadi bisa dibayangkan betapa sibuknya kami setiap hari, pagi sampai sore bekerja dan malam harinya harus mengurus rumah tangga kami.

Kami tak memiliki pembantu, tapi meminta tolong kepada seseorang untuk menjaga anak kami selama kami bekerja dan seorang lain untuk memberi makan ibu saya ketika kami tinggalkan bekerja. Kedua orang yang membantu kami tersebut tidaklah tinggal serumah dengan kami namun mereka ada ketika kami pergi bekerja. Kami enggan menyebut mereka pembantu karena mereka sudah kami anggap seperti saudara sendiri karena telah sudi meluangkan waktu dan tenaganya untuk membantu kami sekeluarga.

Yang ingin saya kemukakan untuk renungan harian Kristen saat ini adalah se-super apapun usaha saya merawat ibu yang sedang sakit maka itu belumlah cukup bila dibandingkan dengan kasih seorang ibu terhadap anaknya. Sebab oleh karena kepenatan dan rutinitas serta beban hidup yang menghimpit maka saya seringkali menggerutu ketika merawat beliau. Bila ini saya renungkan kembali maka mungkin saya anak tak tahu budi dan saya sangat merasa berdosa karena kurang sabar dalam merawat ibu saya. Saya bisa “merasakan” bagaimana sabarnya ibu ketika merawat saya dulu sewaktu masih kecil yang mungkin sangat rewel dan bandel, menyiapkan makan pagi ketika saya mau sekolah, mencuci baju kotor saya dan hal-hal rutin lain yang biasa dilakukan oleh seorang ibu. Ketika mengingat hal itu semua maka menyesal dan menangis dalam hati, beginikah balas budiku terhadap ibu yang telah membesarkanku?

Suatu malam dimana ibu saya masih bisa saya lihat, ibu harus dibawa ke rumah sakit karena sakitnya kambuh dan malam itu adalah malam terakhir untuk beliau. Setelah mengalami kejang-kejang selama hampir 12 jam, kondisi fisiknya tak mampu menghadapi tekanan penyakit walau telah dibantu oleh berbagai macam selang obat dan makanan yang masuk ke dalam tubuhnya untuk menopang hidupnya. Selama 12 jam tersebut, dalam kondisi tak sadar karena kejang-kejang, saya terus menjaga, berdoa dan mohon ampun atas perlakuan saya selama ini. Saya berulang kali memohon maaf dengan membisikkan kata-kata di telinganya walau mungkin dia tak mendengar namun saya menangis menyesali perlakuan kurang baik selama merawatnya. Saya berdoa untuknya, menggumamkan lagu rohani kesukaannya, memegang dan memeluk tangannya hampir sepanjang malam itu. Saat dalam dekapanku, hembusan napas terakhirnya begitu menyesakkan dada. Betapa kenangan malam itu masih lengkap dalam ingatan sampai hari ini.

Untuk pembaca renungan harian Kristen sekalian, mudah-mudahan kisah cerita pribadi saya ini dapat menjadi inspirasi bahwa kasihilah ibumu sekuat tenagamu, jangan pernah menggerutu, jangan pernah kasar terhadapnya, berilah yang terbaik untuk ibu yang telah melahirkan kita ke dunia ini agar tak menyesal seperti saya ketika tak mampu berbuat yang terbaik untuk orang tua kekasih.

(Untuk Mami di surga, maafkan aku ya Mi, hanya tulisan ini yang kupersembahkan untuk mengabadikan betapa menyesalnya diriku disaat-saat hari terakhirmu…)

Previous post:

Next post: