Merenungkan Arti Kebebasan Yang Sejati

by admin

in Iman

Dalam hidup kita sehari-hari sebagai manusia dengan segera kita akan melihat sisi yang berlawanan antara kebebasan dan hal mengikuti orang lain. Pilihan-pilihan yang ada adalah sebagai berikut: saya melakukan apa yang saya inginkan dan itu berarti saya bebas atau saya mematuhi secara pasif apa yang dikatakan oleh orang lain atau kenyataan di luar diri kita. Kita berpikir, jika saya bebas maka saya harus sepenuhnya dapat mengendalikan diri saya.

Bagaimanapun juga ketika kita membaca Injil terutama Injil Yohanes, kita temukan bahwa “di dalam Yesus, sebuah hubungan antara Allah dan kebebasan tidaklah terpisah satu sama lain melainkan keduanya saling memperkuat ” (Surat dari Kenya). Dalam bacaan kita di atas, Yesus sendiri berkata sebanyak dua kali bahwa Dia tidak dapat berbuat apa-apa. Namun pada saat yang sama Dia juga mengatakan bahwa Dia menerapkan hak-hak yang biasanya dimiliki oleh Allah saja, yakni memberi kehidupan dan menghakimi.

kebebasan_sejatiKunci dari teka-teki tersebut ditemukan dalam penggambaran diri Yesus yang menguak jati diri-Nya yang paling hakiki. Dia adalah Anak, bukan hanya karena Dia lahir dari seseorang yang lain namun lebih karena seluruh keberadaan diri-Nya mengalir dari sebuah Sumber yang disebut-Nya sebagai “Sang Bapa” atau “Dia yang telah mengutus-Ku”. Setiap saat Dia menerima segala sesuatunya dari Sumber tersebut. Hakikat diri-Nya adalah berada dalam sebuah keterkaitan atau hubungan. Bagi-Nya, kenyataan bahwa Dia harus selalu mencari dan melakukan kehendak dari “Yang lain” dan pada saat yang sama Dia secara penuh menjadi diri-Nya sendiri serta menjadi seorang yang bebas tidaklah menimbulkan pertentangan di dalam diri-Nya, karena hakikat diri-Nya tercipta dari sikap mendengarkan dan menanggapi apa yang didengar-Nya.

Sebagai tambahan, Yesus menuntun para pengikut-Nya untuk masuk ke dalam hubungan yang dimiliki-Nya dengan Allah. Kita menjadi anak-anak di dalam iman kepada Sang Anak (lihat Roma 8:14-17). Oleh karena itu terserah bagi kita untuk menemukan kebebasan kita, seperti Yesus, bukan dengan hanya mengikuti bayangan-bayangan semu yang kita miliki namun dengan menyambut karunia-karunia yang dikaruniakan Allah kepada kita dan dengan berusaha untuk menerapkan kehendak kasih-Nya.

  • Bacaan: Maka Yesus menjawab mereka, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. Sebab Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri, bahkan Ia akan menunjukkan kepada-Nya pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar lagi dari pada pekerjaan-pekerjaan itu, sehingga kamu menjadi heran. Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya. Bapa tidak menghakimi siapa pun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak, supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia. (…) Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku. (Yohanes 5:19-23.30). Sumber artikel Merenungkan Arti Kebebasan Yang Sejatihttp://www.taize.fr.

Artikel Renungan Harian Kristen tersebut dapat dicari dengan kalimat:

Previous post:

Next post: