Cara Mengatasi Kuatir Dalam Keseharian

by admin

in Iman

Sebagai manusia biasa, semua orang Kristen pasti pernah merasakan kekuatiran namun tak jarang kita tidak mengetahui cara mengatasi kuatir yang datang secara tiba-tiba. Kuatir tentang masa tua, kuatir tentang masa depan, kuatir tentang masa depan anak-anak kita kelak, kuatir bila tak mendapatkan jodoh yang sepadan, kuatir tak mendapatkan pekerjaan, kuatir tak punya uang dan masih banyak kekuatiran lainnya yang antara satu orang dengan yang lainnya pasti berbeda. Namun meskipun ada perbedaan rasa kuatir yang dihadapi oleh setiap orang tapi inti rasa kuatir itu tetaplah sama yakni hilangnya rasa damai sejahtera dalam hati sehingga lupa menyadari bahwa ada Kuasa Allah lebih besar yang dapat mengatasi kekuatiran tersebut.

Dalam perikop bacaan harian di Matius 6:25-34, kita sekalian sebenarnya akan dengan mudah menemukan cara mengatasi kuatir. Di dalam sembilan ayat itu, kata “janganlah kuatir” dituliskan sebanyak tiga kali. Yesus Kristus mengetahui bahwa sebagai manusia kita cenderung untuk kuatir. Tak peduli siapapun diri kita. Apakah orang pintar, bodoh, kaya, miskin, tua atau muda. Semuanya punya kekuatiran. Yang bodoh kuatir karena banyak hal yang tidak ia ketahui, yang pintar kuatir karena ia tahu terlalu banyak hal. Yang miskin kuatir karena ia merasa tidak cukup dan yang kaya kuatir karena ia takut kehilangan. Yang tua kuatir karena harus menghadapi maut dan yang muda kuatir karena harus menghadapi masa depan.

Fakta Dibalik Rasa Kekuatiran

  • Kekuatiran itu sebenarnya adalah sesuatu yang sia-sia. Sama sekali tidak produktif dan tidak mungkin dapat mengubah keadaan. Karena itu kekuatiran adalah suatu tindakan orang bodoh. Di ayat 27 Matius 6, Yesus bertanya, siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambah sehasta saja pada jalan hidupnya? Dengan kata lain, apakah kekuatiran dapat mengubah keadaan? Apakah dengan mengkuatirkan hidup kita, kita dapat menambah hidup kita barang satu hari pun? Kekuatiran itu tidak akan membuahkan hasil apa pun.  Bukan saja tidak mengubah suatu apa pun, tapi malah menghilangkan sukacita. Dan tidak heranlah kekuatiran merupakan senjata ampuh iblis untuk melemahkan anak-anak Tuhan.
  • Kekuatiran itu juga bertentangan dengan iman. Kekuatiran adalah lawan kepada iman. Kekuatiran sama sekali tidak konsisten dengan iman. Yesus telah memberi jaminan bahwa Allah Bapa yang memberi makan burung yang tidak berarti itu, tidakkah Dia akan memelihara kita? Kalau rumput dan bunga yang hidupnya hanya satu hari saja didandani sebegitu indah oleh Allah, tidakkah Kristus akan memelihara/menjamin kehidupan Anda yang jauh lebih berharga itu.  Kalau kita pecaya pada Allah sebagai Pencipta kita, mengapa kita tidak percaya bahwa Dia akan memelihara ciptaan-Nya?
  • Dengan kuatir, kita sebenarnya sedang meragukan kata-kata yang disampaikan oleh Yesus dalam bacaan di atas. Sebenarnya sangat tidak masuk akal untuk kuatir karena Alalh sudah berjanji Dia akan memelihara kita. Tapi kalau kita tetap saja masih kuatir, hal ini menunjukkanbahwa kita sebenarnya tidak percaya pada Allah. Dengan kata lain, kita bisa saja dianggap telah memandang ucapan Yesus Kristus itu sebagai omong kosong.
  • Manusia diciptakan untuk Tuhan untuk tidak kuatir. Penelitian ilmiah telah membuktikan adanya kaitan antara stres dan peningkatan resiko terkena penyakit. Stres membuat saraf kita mengirim sinyal ke otak untuk memberitahu seluruh jaringan saraf meresponi stres. Setelah itu detak jantung, pernapasan dan tekanan darah meningkat. Perubahan-perubahan ini menghambat pencernaan dan respon kekebalan tubuh. Karena itu orang yang stres mudah sekali jatuh sakit karena sistem pertahanan tubuh sudah lemah. Dengan kata lain, memang sudah dalam rencana Tuhan bahwa manusia itu diciptakan untuk hidup bergantung total kepada Tuhan. Kita hanya perlu menyerahkan semuanya pada Tuhan, dan Dialah yang akan memelihara kita. Kita tidak perlu kuatir tentang suatu apa pun. Namun sudah tentu, hal ini bukan alasan untuk bermalas-malasan karena “burung hidup bergantung pada pemeliharaan Allah” tetapi ia terbang dari pagi sampai sore mencari makanan. Kita bekerja dan menjalankan bagian kita, tetapi kita tidak perlu stress atau kuatir setelah kita melakukan bagian kita karena Allah sudah berjanji bahwa Dia akan memelihara kita.
  • Kekuatiran sebenarnya menunjukkan bahwa ada yang tidak beres dengan iman kita. Karena kita tahu iman dan kekuatiran itu bertolak belakang. Kalau kita beriman, kita tidak akan kuatir. Justru karena kita kuatir, itu menunjukkan bahwa kita tidak beriman atau ada masalah dengan iman kita.

Seorang anak, tidak akan pernah kuatir apakah bapa/ibunya akan menberinya makan. Dia tahu, saat dia lapar, makanan akan tersedia. Dalam hubungan anak dan orang tua, anak itu sama sekali tidak punya kekuatiran. Dia yakin orang tuanya akan menyediakan.  Dia hidup dalam keyakinan akan kasih orang tua kepadanya.

Masalah terbesar kita adalah kurangnya keyakinan bahwa Allah mengasihi kita sebagaimana seorang bapa/ibu mengasihi anaknya

Bagaimana Cara Mengatasi Kuatir?

Cara mengatasi kuatir yang paling mudah adalah kita perlu terlebih dahulu mengenal siapa Dia yang kita percaya. Kita harus menjalin hubungan anak-bapa yang nyata lewat pengalaman supaya kita tiba pada suatu tingkat di mana kita yakin bahwa Allah Bapa itu sangat mengasihi kita, Dia akan memelihara dan memperhatikan kita, dan karena itu, kita tidak perlu kuatir.

Merenungkan arti Yesus Kristus adalah Gembala Agung merupakan sebuah tahap awal untuk menyakinkan bahwa kita adalah domba-domba yang dikasihiNYA. Gembala memastikan bahwa kawanan dombanya aman dari musuh. Gembala melindungi domba-domba dari cuaca dingin dan juga ancaman serigala dan hewan pemangsa yang lain. Gembala memimpin dan memastikan domba-domba berada di jalur yang sudah dia tentukan.

Merenungkan Kasih Allah, tetap berdoa, mengucap syukur dan memfokuskan pikiran kepada hal-hal yang mulia (semua hal yang berkaitan dengan kebajikan) adalah cara mengatasi kuatir paling ampuh yang bisa dilakukan, kiranya Tuhan Yesus Kristus memberkati kita sekalian.

Previous post:

Next post: